Daniy!

selamat tinggal, blogger..

Subscribe to Daniy!

Archive for the ‘ini isu!’ Category

Yang namanya mencuri memang selamanya tak akan diperbolehkan, baik dari segi agama maupun dari segi hukum sekuler. Tindakan pencurian sejatinya merugikan salah satu pihak yang sesuatu secara sah. Mencuri bisa dianggap sebagai salah satu bentuk tidak sportifnya jalan yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Sebab ia tak sabar dalam meraih sesuatu, maka jalan pintaslah yang diambil sebagai penyelesaian atas persoalan. Read the rest of this entry »

jbuvytpc6chdcap14tf.jpgUntuk kesekian kalinya saya kembali berkunjung ke salah satu tempat teramai di seluruh Jogja, Stasiun Tugu. Setelah membayar jasa peron tigaribu rupiah, kami mengambil tempat duduk di tempat perhentian kereta sebelah utara.

Menurut tiket yang dipegang Aulia, kereta bisnis Mutiara Selatan tujuan stasiun Gubeng Surabaya, akan tiba pada pukul 01.00 WIB, sehingga diperkirakan kami hanya perlu menunggu selama 30 menit. But, this is Indonesia. Maka, dari corong pemberitahuan stasiun, kami mendapat informasi bahwa kereta tersebut akan tiba empatpuluh menit lebih lambat daripada jadwal. Melayangkan pandang ke sekitar peron, saya mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya temui sebelumnya. Pada jalur kereta sebelah utara ini, sedang dibangun undak-undakan setinggi sekitar tujuhpuluh senti yang bersisian dengan setiap kereta yang berhenti untuk menaikturunkan penumpang. Read the rest of this entry »

May
24

Lebih Kuat, Lebih Besar, Lebih Baik

Posted by daniy! under ini isu!

Di sebuah perkampungan, tersebutlah sebuah toko kelontong yang merupakan satu-satunya tempat yang menyediakan segala jenis kebutuhan bagi masyarakat setempat. Selama bertahun-tahun, toko kelontong tersebut menjadi tujuan utama setiap penduduk yang ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, gula, teh, pasta gigi, deterjen, pembalut, rokok, hingga pakaian anak-anak.

Pemiliknya adalah sepasang suami istri yang boleh disebut pribumi sebab kakek dan nenek mereka sudah turun temurun hidup di kampung tersebut. Toko mereka tersebut terlihat sederhana dengan rak-rak barang dagangan yang tertata menempel pada dinding kusam yang jarang tersentuh oleh cat baru setiap tahunnya.

Tak ada yang terlalu istimewa pada toko tersebut, namun karena dia satu-satunya yang buka di tengah perkampungan, otomatis dia menjadi satu-satunya tujuan bagi penduduk kampung. Secara umum, pelayanan yang diberikan pemilik warung tersebut juga tidak mengecewakan. Walaupun mereka terhitung sebagai satu-satunya toko kelontong, tidak lantas mereka berniat untuk mempraktekkan monopoli dengan memberi harga yang berada di atas standar pasar.

Setelah tujuh tahun berlalu, perubahan terjadi. Sepasang suami istri pemilik toko kelontong tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya penyedia barang kebutuhan di perkampungan tersebut. Pasalnya, tepat di sebelah toko mereka tersebut telah berdiri sebuah bangunan baru yang menjalankan usaha yang sama dengan yang mereka buat.

Toko baru itu terbangun di atas pondasi yang kokoh, dengan cat yang putih bersinar, serta puluhan lampu neon yang berpendar di atas rak-rak barang jualan yang tertata rapi berjajar. Dinding-dinding luarnya terbuat dari kaca yang 100% transparan sehingga setiap orang yang lewat dapat melihat apa saja yang dijual di dalam toko tersebut. Pada pintu depannya tertempel harga-harga barang yang dengan gamblang tersebut hingga ke titik koma. Para pembeli pun tidak perlu merinci satu-satu barang yang ingin mereka beli kepada pelayan toko, melainkan langsung mengambil dari rak-rak yang ada. Mereka tinggal mengambil keranjang, berkeliling, lalu menaruh keseluruhan barang yang hendak mereka beli di kasir depan. Para pelayan toko tersebut juga cekatan menghitung barang belanjaan masing-masing pembeli. Berbekal pistol laser barcode dan komputer mini, seluruh belanjaan dapat segera diketahui totalnya dalam waktu kurang dari tiga menit.

Toko yang baru tersebut merupakan milik seorang pengusaha dari perkotaan yang sedang mengembangkan usahanya ke daerah. Enam bulan yang lalu, kampung sebelah telah terbangun toko kelontong yang baru dengan pemilik yang sama. Kali ini, giliran kampung ini yang mendapat sasaran perluasan usaha sang pengusaha dari kota tersebut. Kata desas-desus, pemilik toko tersebut adalah orang keturunan.

Tidak ada yang salah memang dengan pemilik toko yang katanya keturunan, namun yang jelas banyak penduduk yang hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari tidak lagi menuju ke warung kelontong milik sepasang suami istri tersebut. Mereka lebih tertarik dengan toko baru yang lebih bersih, lebih tertata, lebih cepat pelayanannya, dan juga lebih murah harganya. Selisih harga seratus perak merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keputusan penduduk untuk memilih di mana mereka akan berbelanja.

Perlahan namun pasti, toko kelontong tradisional itupun mulai kehilangan pembeli. Sepasang suami istri tersebut mulai berpikir untuk menutup usahanya yang telah bertahun-tahun mereka jalankan. Berkurangnya pembeli membuat barang dagangan mereka tidak berputar dan menumpuk di rak, dan otomatis uang yang mereka jalankan pun tak mengalir lancar seperti biasa. Sebab mereka kalah bersaing dengan pesaing baru yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih menarik.

Ini memang tidak ada hubungannya dengan isu rasisme. Ini hanya soal bisnis. Menurut Anda?

May
23

Limaribu dan Makhluk Bernama Inflasi

Posted by daniy! under ini isu!

Baru saja pulang dari mengantri premium yang terjadi bukan karena kesengajaan. Tidak sengaja sebab bensin di mobil memang sudah menipis. Tidak sengaja pula sebab memang saya tidak tahu bahwa ternyata malam ini adalah malam terakhir premium dapat ditebus dengan harga empatribu limaratus perak per liternya. Esok pagi, serta merta ia akan berubah menjadi enamribu rupiah per liter.

Ini inflasi! Ya, inflasi memang kenyataan semenjak mata uang yang kita pegang terus saja menurun daya tukarnya terhadap barang-barang. Ingat soal bensin, teringat pula masa lima tahun yang lalu ketika uang limaribu rupiah dapat memenuhi tangki bensin sepeda motor Honda Grand. Itupun meluber sebab idealnya adalah empatribu limaratus.

Hari ini, apa yang bisa kita dapatkan dengan uang limaribu? Hmm… Selain satu liter bensin, tentunya masih ada yang mampu didapat dengan nominal itu. Saya biasa bersarapan pagi di warung yang juga menjual bensin eceran di Condongcatur: sepiring nasi putih dengan sayur oseng kacang panjang dan lauk telur dadar. Semuanya seharga duaribu rupiah. Dengan limaribu rupiah, itu berarti dua kali sarapan pagi. Saya tak tahu esok pagi apakah duaribu masih cukup untuk menebus sepiring nasi telur saya, namun yang jelas harga dagangan bensinnya turut naik.

Sore hari, kami sekantor biasa mengemil gorengan yang dijual ibu warung sebelah kantor. Dengan limaribu rupiah, saya akan mendapatkan sebuah paket gorengan berisi delapan buah item yang terdiri atas pisang, tempe, tahu, bakwan, atau tape. Saya tak tahu apakah esok hari paket tersebut masih berjumlah delapan buah.

Semua memang harus naik dan nampaknya tidak pernah akan turun. Dahulu sewaktu kecil saya selalu berlogika jika mendengar pengumuman di Berita Malam TVRI tentang kenaikan harga BBM. Jika ada penaikan harga bensin, pasti ada penurunan. Saya menunggu hari demi hari, hingga berita tentang kenaikan harga BBM berikutnya kembali disiarkan oleh Usi Karundeng. Rupanya saya bersandar pada logika yang salah. Tak pernah ada penurunan, daniy!

Ada! Penurunan itu ada. Di saat harga barang-barang terus membubung, ada hal yang terhempas turun: nilai mata uang. Kata ibu Suratmi guru saya kelas enam SD berkata: itu namanya inflasi.

Inflasi adalah ketika uang limaribumu tak lagi mampu membeli seliter bensin.
Inflasi adalah ketika uang limaribumu tak lagi setara dengan sepiring nasi telur
Inflasi adalah ketika uang limaribumu tak dapat ditukar lagi dengan delapan buah gorengan.
Inflasi adalah ketika uang limaribumu hanya berarti sebagai selembar kertas bercetak angka limaribu di keempat sisi yang kamu bisa laminasi dengan biaya sepuluhribu.

Inflasi itu ada, Daniy!