Daniy!

selamat tinggal, blogger..

Subscribe to Daniy!

Archive for May, 2008

May
30

Mencintai Diri Sendiri Lewat Flickr!

Posted by daniy! under ide

Berfoto bukanlah kegemaran saya, namun menyimpan foto diri adalah kesenangan tersendiri. Terutama melihat diri saya sepuluh tahun yang lalu berpose di depan kamera poket berfilm rol isi 36. Saya kerap berceloteh kepada kawan saya tentang beruntungnya anak-anak saat ini karena mereka bisa melacak bagaimana rupa dan tingkah mereka pada waktu kecil. Orang tua mereka dapat dengan mudah memotret dan merekam video anak mereka melalui ponsel dan disimpan untuk diperlihatkan ketika sang anak sudah beranjak besar.

Saat ini saya hanya punya beberapa pose telanjang saya sewaktu masih berumur 6 bulan. Beberapa saya selipkan di buku agenda kerja, sehingga saya bisa melihat dan mengingat bagaimana riwayat rupa saya duapuluh empat tahun yang lalu. Sisa foto yang lain masih tersimpan dengan rapi di album foto di rumah. Oleh sebab tersimpan dalam album itulah, maka foto-foto tersebut jarang sekali untuk dilihat kecuali jika tertemukan pada waktu yang tak disengaja ketika hendak mencari sesuatu barang yang terselip entah di rak buku.

Saat ini jaman memang sudah berubah ketika foto-foto tak hanya bisa tersimpan rapi di dalam album foto. Dengan mudah orang dapat memindai (scan) fotonya ke dalam bentuk digital dan dengan waktu singkat dapat disimpan ke dalam harddisk komputer. Ketika era Web 2.0 memasuki masanya, maka foto tidak lagi bisa dilihat oleh keluarga, kerabat, dan sahabat. Layanan social networking seperti Friendster, FaceBook, dan Flickr memudahkan siapa saja untuk mengakses dan melihat foto yang kita upload ke dalamnya.

Menyimpan foto berarti mencintai setiap kenangan yang terkandung di dalamnya. Dan dengan Flickr beserta dengan situs social networking lainnya, membantu untuk berbagi dan melestarikan kenangan tersebut hingga waktu yang tak terbatas.

May
27

Hari ini 2 Tahun Yang Lalu

Posted by daniy! under personal

Pagi ini 2 tahun yang lalu saya terbangun dengan terburu-buru. Bukan sekedar dering alarm ponsel biasa, namun guncangan 5,8 skala richter yang seketika membuat saya berpikir bahwa saya telah berada di ujung dunia. Kiamat!

Setelah satu menit berlalu, saya mencoba menduga apa gerangan yang terjadi se kaligus memastikan posisi matahari, apakah masih terbit dari timur ataukah sudah dari barat. Ternyata semua baik-baik saja, namun tidak setelah itu.

Dalam hitungan jam, dunia telah mengetahui sebuah berita baru: Ada gempa di Jogja.

May
26

Kesingkatan Bill

Posted by daniy! under billblogging

Aku merasa dunia begitu singkat. Seperti menghitung hari yang selalu berulang. Aku selalu menghitung setiap aku bangun pagi:

Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu

Selalu berulang dan membuatku semakin terperangkap dengan sistem rutinitas. Jika setiap hari aku selalu harus menderita untuk bangun dan berangkat kerja, maka aku selalu merindukan Minggu untuk kembali.

Memang, Minggu selalu datang, namun aku harus melewati enam hari yang melelahkan untuk mencapainya. Mungkin ini karena aku selalu berpikir bahwa hari adalah sesuatu yang terus berulang. Dengan pola pikir seperti ini, maka aku akan selalu merasa bahwa tidak ada yang bisa diraih di depan sana, dan Minggu adalah saat terbaik untuk ditunggu.

Aku tak pernah berpikir hari sebagai sesuatu yang linear, berjalan lurus, tanpa ada repetisi. Setiap hari adalah waktu yang berbeda. Senin ini, Senin minggu lalu, dan Senin minggu depan adalah waktu yang sama sekali berbeda. Mungkin dengan pola pikir seperti ini aku bisa melihat bahwa memang ada sesuatu di depan sana. Sesuatu yang banyak orang bilang sebagai masa depan.

Maka hari-hari yang akan kulalui bukanlah sebuah repetisi atas masa lalu melainkan sebagai proses menuju masa depan. Mungkin aku akan mencoba.

May
25

Sistem Rutinitas Bill

Posted by daniy! under billblogging

Pukul 6.30 pagi. Aku telah menyetel alarm pada ponselku yang pasti akan membuatku terbangun dalam lima menit lagi. Aku ingat bahwa aku menyetelnya dengan penuh kesadaran malam tadi, hanya saja aku tak setuju dengan waktunya. Kalau saja aku bisa memulurkan waktunya lebih panjang, sehingga aku bisa tidur lebih panjang pagi ini.

Tapi aku tidak bisa. Ada sistem yang aku harus patuhi yang membuat aku harus terjaga setiap pukul enam tigapuluh lima pagi. Orang bilang itu sistem rutinitas. Selama limabelas tahun aku telah hidup dalam sistem tersebut dan terkadang (malah lebih sering kali ini) aku berpikir untuk mengabaikan sistem tersebut. Read the rest of this entry »

May
24

Lebih Kuat, Lebih Besar, Lebih Baik

Posted by daniy! under ini isu!

Di sebuah perkampungan, tersebutlah sebuah toko kelontong yang merupakan satu-satunya tempat yang menyediakan segala jenis kebutuhan bagi masyarakat setempat. Selama bertahun-tahun, toko kelontong tersebut menjadi tujuan utama setiap penduduk yang ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, gula, teh, pasta gigi, deterjen, pembalut, rokok, hingga pakaian anak-anak.

Pemiliknya adalah sepasang suami istri yang boleh disebut pribumi sebab kakek dan nenek mereka sudah turun temurun hidup di kampung tersebut. Toko mereka tersebut terlihat sederhana dengan rak-rak barang dagangan yang tertata menempel pada dinding kusam yang jarang tersentuh oleh cat baru setiap tahunnya.

Tak ada yang terlalu istimewa pada toko tersebut, namun karena dia satu-satunya yang buka di tengah perkampungan, otomatis dia menjadi satu-satunya tujuan bagi penduduk kampung. Secara umum, pelayanan yang diberikan pemilik warung tersebut juga tidak mengecewakan. Walaupun mereka terhitung sebagai satu-satunya toko kelontong, tidak lantas mereka berniat untuk mempraktekkan monopoli dengan memberi harga yang berada di atas standar pasar.

Setelah tujuh tahun berlalu, perubahan terjadi. Sepasang suami istri pemilik toko kelontong tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya penyedia barang kebutuhan di perkampungan tersebut. Pasalnya, tepat di sebelah toko mereka tersebut telah berdiri sebuah bangunan baru yang menjalankan usaha yang sama dengan yang mereka buat.

Toko baru itu terbangun di atas pondasi yang kokoh, dengan cat yang putih bersinar, serta puluhan lampu neon yang berpendar di atas rak-rak barang jualan yang tertata rapi berjajar. Dinding-dinding luarnya terbuat dari kaca yang 100% transparan sehingga setiap orang yang lewat dapat melihat apa saja yang dijual di dalam toko tersebut. Pada pintu depannya tertempel harga-harga barang yang dengan gamblang tersebut hingga ke titik koma. Para pembeli pun tidak perlu merinci satu-satu barang yang ingin mereka beli kepada pelayan toko, melainkan langsung mengambil dari rak-rak yang ada. Mereka tinggal mengambil keranjang, berkeliling, lalu menaruh keseluruhan barang yang hendak mereka beli di kasir depan. Para pelayan toko tersebut juga cekatan menghitung barang belanjaan masing-masing pembeli. Berbekal pistol laser barcode dan komputer mini, seluruh belanjaan dapat segera diketahui totalnya dalam waktu kurang dari tiga menit.

Toko yang baru tersebut merupakan milik seorang pengusaha dari perkotaan yang sedang mengembangkan usahanya ke daerah. Enam bulan yang lalu, kampung sebelah telah terbangun toko kelontong yang baru dengan pemilik yang sama. Kali ini, giliran kampung ini yang mendapat sasaran perluasan usaha sang pengusaha dari kota tersebut. Kata desas-desus, pemilik toko tersebut adalah orang keturunan.

Tidak ada yang salah memang dengan pemilik toko yang katanya keturunan, namun yang jelas banyak penduduk yang hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari tidak lagi menuju ke warung kelontong milik sepasang suami istri tersebut. Mereka lebih tertarik dengan toko baru yang lebih bersih, lebih tertata, lebih cepat pelayanannya, dan juga lebih murah harganya. Selisih harga seratus perak merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keputusan penduduk untuk memilih di mana mereka akan berbelanja.

Perlahan namun pasti, toko kelontong tradisional itupun mulai kehilangan pembeli. Sepasang suami istri tersebut mulai berpikir untuk menutup usahanya yang telah bertahun-tahun mereka jalankan. Berkurangnya pembeli membuat barang dagangan mereka tidak berputar dan menumpuk di rak, dan otomatis uang yang mereka jalankan pun tak mengalir lancar seperti biasa. Sebab mereka kalah bersaing dengan pesaing baru yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih menarik.

Ini memang tidak ada hubungannya dengan isu rasisme. Ini hanya soal bisnis. Menurut Anda?